Jumat, 08 Maret 2013

Syair Kematian


Hari ini aku telah melihat banyak kematian. Hal angkuh yang tak menghiraukan apapun tak mengindahkan kepentingan siapapun, dia hanya datang dalam dinginnya dan ketika kau berkedip dia meninggalkan kekakuan dalam seonggok jasad, ya saat itu kau rasakan perihnya saat dia merenggut dan membuat jurang pemisah diantara kalian , saat itu saat kau baringkan ia lalu kalian mengelilinginya, aku suka saat itu , saat semua mata tulus tanpa kepura puraan saat semua cinta murni tanpa rakayasa,
          dan saat kulihat dia yang disudut sana hanya diam tanpa air mata, aku hanya menatap matanya , mentap tajam, tapi aku masih tidak tahu mengapa, lalu saat kudengar lantunan ayat ayat itu dari mulutnya yang bergetar aku langsung tersadar bahwa ia, hatinya sedang berpisah dalam ruang, lalu datang ia dengan hiruk pikuk dan jeritan tangis yang cukup menyatakan bahwa ia hancur, maka semua larut dalam tangis tapi  aku masih terlalu tegar untuk itu maka aku memutuskan keluar, saat itu langit malam Nampak merah aku hanya memandangnya hingga pagi,
dan saat matahari menyapaku datang bersama mereka yang katanya juga turut berduka cita, maka aku hanya melihat lalu tersnyum aku masih mersakan ketulusan dan kepedulian,hingga matahari naik keatas kepalaku lalu dengan pidato singkat yang menyatakan kebaikan ia yang telah terbalut kafan kami pun berangkat dengan jerit dan tangis yang mengiringi,
aku suka saat mereka bersaksi saat selesai solat, apa jenazah ini baik? “BAIK” semua menyahut walau aku bisa melihat ada hanya baik tanpa arti atau ketulusan, setelah itu ending favorite ku ending dari semua ending didunia ini akhir dari semua cerita, “KUBUR” aku memberi salam sebelum masuk ke deretan nisan yang bisu yang masih membuat aku, ragaku bergetar saat melihatnya bahwa aku mempertanyakan kesiapanku siapkah aku jika aku dimintai pertanggung jawabanku?, siapkah aku akan segala urusanku didunia ini?,
maka aku melangkah dengan kaku membawa nya ke lubang yang berukuran lebar  kurang dari 2 meter saat aku melihatnya aku masih bergetar saat tangan tangan itu mengantarkannya lalu saat itu ada seseorang yang datang, seorang dari rahimnya yang berjarak ribuan mill darinya, sekarang datang hampir terlambat sesaat sebelum kubur ditutup dia masih sempat melihat wajah dia yang dulu mendidiknya hingga seprti sekarang dia yang rela kehilangan nyawa untuknya,
aku tepat didepannya untuk melihat sorot matanya ketika dia melihat jasad ibunya telah tergeletak didalam lubang yang mereka bilang liang lahat, sorot matanya cukup mengartikan penyesalan dan kehilangan, dia hanya diam lalu duduk disebelahku dibadan nisan yang kutak tahu siapa didalamnya lalu doa pun dikumandangkan untuk mengantarkan nya kealam yang lain,
lalu kami pulang sementara aku hanya diam ketika dia yang duduk disebelahku juga diam hanya sedetik kemudian aku mendengar deru nafas dan suara yang bergetar lalu dia bangkit dan berjalan linglung kearah makam dia duduk tepat didepan makam itu dia memandang nisan itu dengan tatapan penuh arti tapi aku belum mampu mengartikannya, kurasakan tatapan itu dalam lebih dalam dari tatapan siapapun didunia ini kepadaku, kurasakan itu seperti limpahan seluruh isi hatinya, dia hanya diam kemudian bangkit lalu pergi, aku mengikutinya dari belakang, sampai sore itu kami pulang, aku masih mengingat sebuah kata kata  dari orang tua berumur 84 tahun
“TELAH SAMPAI PERJANJIAN ITU PADANYA MAU DIAPAKAN LAGI?”
Sebuah kata yang aku tak cukup tegar untuknya,               

MHM, 07-03-13