Hari ini aku telah
melihat banyak kematian. Hal angkuh yang tak menghiraukan apapun tak
mengindahkan kepentingan siapapun, dia hanya datang dalam dinginnya dan ketika
kau berkedip dia meninggalkan kekakuan dalam seonggok jasad, ya saat itu kau
rasakan perihnya saat dia merenggut dan membuat jurang pemisah diantara kalian
, saat itu saat kau baringkan ia lalu kalian mengelilinginya, aku suka saat itu
, saat semua mata tulus tanpa kepura puraan saat semua cinta murni tanpa
rakayasa,
dan
saat kulihat dia yang disudut sana hanya diam tanpa air mata, aku hanya menatap
matanya , mentap tajam, tapi aku masih tidak tahu mengapa, lalu saat kudengar
lantunan ayat ayat itu dari mulutnya yang bergetar aku langsung tersadar bahwa
ia, hatinya sedang berpisah dalam ruang, lalu datang ia dengan hiruk pikuk dan
jeritan tangis yang cukup menyatakan bahwa ia hancur, maka semua larut dalam
tangis tapi aku masih terlalu tegar
untuk itu maka aku memutuskan keluar, saat itu langit malam Nampak merah aku
hanya memandangnya hingga pagi,
dan saat matahari
menyapaku datang bersama mereka yang katanya juga turut berduka cita, maka aku
hanya melihat lalu tersnyum aku masih mersakan ketulusan dan kepedulian,hingga
matahari naik keatas kepalaku lalu dengan pidato singkat yang menyatakan
kebaikan ia yang telah terbalut kafan kami pun berangkat dengan jerit dan
tangis yang mengiringi,
aku suka saat
mereka bersaksi saat selesai solat, apa jenazah ini baik? “BAIK” semua menyahut
walau aku bisa melihat ada hanya baik tanpa arti atau ketulusan, setelah itu
ending favorite ku ending dari semua ending didunia ini akhir dari semua cerita,
“KUBUR” aku memberi salam sebelum masuk ke deretan nisan yang bisu yang masih
membuat aku, ragaku bergetar saat melihatnya bahwa aku mempertanyakan kesiapanku
siapkah aku jika aku dimintai pertanggung jawabanku?, siapkah aku akan segala
urusanku didunia ini?,
maka aku melangkah
dengan kaku membawa nya ke lubang yang berukuran lebar kurang dari 2 meter saat aku melihatnya aku
masih bergetar saat tangan tangan itu mengantarkannya lalu saat itu ada
seseorang yang datang, seorang dari rahimnya yang berjarak ribuan mill darinya,
sekarang datang hampir terlambat sesaat sebelum kubur ditutup dia masih sempat
melihat wajah dia yang dulu mendidiknya hingga seprti sekarang dia yang rela
kehilangan nyawa untuknya,
aku tepat
didepannya untuk melihat sorot matanya ketika dia melihat jasad ibunya telah
tergeletak didalam lubang yang mereka bilang liang lahat, sorot matanya cukup
mengartikan penyesalan dan kehilangan, dia hanya diam lalu duduk disebelahku
dibadan nisan yang kutak tahu siapa didalamnya lalu doa pun dikumandangkan
untuk mengantarkan nya kealam yang lain,
lalu kami pulang
sementara aku hanya diam ketika dia yang duduk disebelahku juga diam hanya
sedetik kemudian aku mendengar deru nafas dan suara yang bergetar lalu dia
bangkit dan berjalan linglung kearah makam dia duduk tepat didepan makam itu
dia memandang nisan itu dengan tatapan penuh arti tapi aku belum mampu
mengartikannya, kurasakan tatapan itu dalam lebih dalam dari tatapan siapapun
didunia ini kepadaku, kurasakan itu seperti limpahan seluruh isi hatinya, dia
hanya diam kemudian bangkit lalu pergi, aku mengikutinya dari belakang, sampai
sore itu kami pulang, aku masih mengingat sebuah kata kata dari orang tua berumur 84 tahun
“TELAH SAMPAI PERJANJIAN ITU PADANYA MAU
DIAPAKAN LAGI?”
Sebuah kata yang aku tak cukup tegar untuknya,