Jumat, 18 September 2015

ia menangis

sudah tiga hari ia resah,
laki laki paling tegar yang pernah aku tau. ibunya hanya bernafas lemah.. tak mau bangun lagi
aku menatapnya
ia tak peduli..ia hanya sedang memakaikan ibunya baju terbaik yang aku tak tau mengapa itu perlu

lalu semua tersedu sedu..meraung raung menangis nangis
seakan orang tua itu...seakan ibunya
belum pantas pergi..belum terlalu lelah hidup didunia omong kosong ini

tapi ia tidak..ia hanya terdiam..
mengelus kepala ibunya, ibu yang mengikat perut untuk membantunya pergi kekota
ibu yang duduk menunggunya pulang setiap lebaran tiba dibawah pohon jambu tua

ia hanya terlalu tenang...aku sampai kebingungan mengapa
mengambil al quran tua diatas lemari yang aku tau bahkan lebih tua darinya
ia mulai melantunkan ayat ayat itu
aku sering mendengarnya. tapi tidak seperti saat itu
ia tidak perduli apa apa...aku tau saat itu ia ..hatinya hancur berantakan..nafasnya terputus putus
menatap ayat ayat itu dalam seakan itu adalah diari kesedihan
dan ia adalah laki laki yang kesakitan

lalu ketika kamar itu mulai dingin.. aku tercekat
waktunya habis batinku
sekejap kemudian terjadi hiruk pikuk yang janggal...kulirik ia mencium kening ibunya lalu pergi keluar
begitu saja?

aku mecarinya diluar dan menemukan ia.. atau kurasa raganya.. terduduk dibawah pohon jambu tua
aku pun kesakitan karenanya

lalu ia memanggilku..mananyakan ayat ayat untuk mengantarkan ibunya berpulang
yang aku tau ia harus jadi imam.. dan aku juga tau abangnya yang sudah mulai renta juga mengerti

seketika hatinya kurasakan kembali menguat
aku akhirnya mengerti mengapa ayat ayat yang ia kirimkan ke ayahnya membuatnya sedih sedemikian rupa
laki laki itu menyesal
ia sungguh menyesal tak melihat pembaringan ayahnya..ia sungguh menyesal tak membopong ayahnya kedalam tanah dengan tangannya

untuk itu
ia harus jadi imam

lalu pada akhirnya
aku melihat tangannya yang kekar membopong ibunya kepembaringan terakhir
masih tanpa air mata

dan pada saat jasad tertimbun tanah dan nisan telah tertancap semua doa doa dipanjatkan
semua pergi
sedang ia berlutut

dia menangis
laki laki paling tegar yang aku tau
menangis..

MHM 27-07-2014






Selasa, 08 September 2015

boleh saja

Boleh saja pergi
Boleh saja
Hanya jangan perlahan ingin kembali

Boleh saja hujam aku dengan belati
Sekali saja
Sekali karena itu sakit sekali

Boleh saja mengunjungiku lagi
Pelataranku masih sama
Hanya isinya sedang ku perbaiki

Kalau kau meminta minum padaku sayang
Minuman yang dulu kita senangi
Aku tak punya lagi
Aku pernah meminumnya habis
Sampai nyaris mati hanya untuk mengingatmu
Bertemu sekali lagi hanya sekali

Anggap aku membual padamu tentang rasa sakit
Bahwa belati itu tak terlalu tajam
Kalau kau  tidak menghujamkannya terlalu dalam

Atau anggaplah aku hanya terlalu rapuh
Si lemah Si bodoh yang terlalu melebih lebihkan

Aku hanya bermimpi bahwa kau adalah permulaanku
Rumah nyaman yang harus ditinggal sebentar
Hingga ketika aku telah terbang tinggi
Tinggi sekali
Sampai aku lelah dan ingin pulang
Aku akan pulang kepadamu

Lalu aku terbangun dan sadar tertidur terlalu lama

Kau hanya singgah sebentar
Bersenang senang
Tak pernah ingin membuat rumah untuk aku pulang


abi_
MHM 09-09-2015

Sabtu, 05 September 2015

Ia..

terduduk disana 
tersenyum senyum pada daun daun yg dilambaikan angin
sudahlah raganya mengerti segala hiruk pikuk dunia

ia yang duduk disana sayang
hanya laki laki yang ingin pulang

ia yang duduk disana
yang tergelitik candaan tuhan
hanya menyimpulkan senyum
tak sampai tertawa terbahak bahak

ia yang duduk disana
yang merong rong sebuah capaian
hanya ingin meluruskan kaki 
sekejap saja 

ia laki laki itu
ditikam tikam rindu tapi hanya meringis

ia laki laki itu
hanya menertawai keadaan

hanya bersenda gurau dengan kesendirian

abi_
MHM 05-09-2015